Minggu, 07 November 2010

Dunia Mahasiswa Dan Anarkisme

Mahasiswa, selalu menjadi bagian terpenting dalam perjalanan sebuah bangsa. Dalam sejarahnya masyarakat intelektual ini selalu menjadi pelakon utama pada perkembangan demokrasi yang terjadi pada setiap bangsa. Di Indonesia misalnya, mahasiswa selalu menjadi pelopor, penggerak serta pengontrol arus demokrasi dan perubahan yang terjadi.


Tak dapat dipungkiri pemikiran kritis, demokratif, soluktif, serta semangat yang membara menempatkan mahasiswa sebagai masyarakat penengah antara penguasa dan rakyatnya, sikap idealisme dan kajian isu yang mendalam selalu menjadi motor dalam gerakan mahasiswa untuk mengawal & menyuarakan aspirasi masyarakat kecil (wong cilik) kepada sang pengendali bangsa ini, dengan cara mereka sendiri.
Pergolakan dan perjalanan mahasiswa Indonesia telah tercatat dalam rentetan sejarah yang panjang dalam perjuangan bangsa Indonesia, seperti gerakan mahasiswa dan pelajar tahun 1966 dan tahun 1998. Masih dapat kita ingat gerakan mahasiswa Indonesia yang didukung oleh semua lapisan masyarakat berhasil menjatuhkan suatu rezim tirani yaitu ditandainya dengan runtuhnya rezim Soeharto.

Legenda perjuangan mahasiswa di Indonesia sendiri juga telah memberikan bukti yang cukup nyata dalam rangka melakukan agenda perubahan tersebut. Tinta emas sejarahnya dapat kita lihat dengan lahirnya angkatan ‘28, ‘45, ‘66, ‘74, yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri tetapi tetap pada konteks kepentingan wong cilik. Terakhir lahirlah angkatan bungsu ‘98 tepatnya pada bulan Mei 1998 dengan gerakan REFORMASI yang telah berhasil menurunkan Presiden Soeharto dari kursi kekuasaan dan selanjutnya menelurkan Visi Reformasi yang sampai hari ini masih dipertanyakan apakah telah terpenuhi?

Saat ini, mahasiswa sering kali menjadi sorotan berbagai media massa baik itu media cetak ataupun media elektronik kerena aksi yang mereka lakukan cenderung anarkis. menyuarakan aspirasi rakyat, mengawal kebijakan serta mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak pro kepada wong cilik selalu menjadi dalih untuk melakukan tindakan tersebut, haruskah membela rakyat dan menegakkan kebenaran di berengi dengan tindakan anarkis.?

Fenomena tersebut menjadi tren didalam kalangan mahasiswa, mungkin tidak asik ketika mereka melakukan demonstrasi tidak menutup jalan, merusak fasilitas umum dan melakukan tindakan anarkis, akankah ini karakteristik mahasiswa saat ini. Pada Koran tribun timur terbitan (11/10/2010) hal 1 memuat berita tentang kebijakan KAPOLRI yang akan menembak mati mahasiswa yang bertindak anarkis terhadap pos penjagaan polisi dan kantor polisi, hal ini membuktikan bahwa ternyata mahasiswa telah dicap sebagai kalangan yang selalu membuat onar dan bertindak anarkis
Tindakan anarkis buat sebagaian kalangan masyarakat Indonesia merupakan tindakan yang tidak terpuji, apalagi merusak fasilitas umum, apapun alasanya tetap tindakan seperti itu merupakan tindakan yang tercela

Di kota Makassar dua tahun terakhir ini menjadi pusat perhatian berbagai daerah dan pemerintahan pusat dikarenakan aksi mahasiswanya yang cenderung brutal, bentrokan antara polisi dengan mahasiswa UNM misalnya, aksi demonstrasi ini berujung ricuh karena aparat keamanan ingin membubarkan paksa aksi solidaritas yang menutup jalan dan mengakibatkan kemacetan yang begitu panjang, namun mahasiswa tidak mau untuk menerimanya. Ujung-ujugnya rakyat yang menderita.

Pada dasarnya di Negara tercinta kita ini memang banyak permasalahan yang begitu rumit untuk diselesaikan, tetapi bukan tindakan yang brutal, anarkis dan merusak fasilitas umum menjadi solusi cerdas untuk memyelesaikan semua itu. Mahasiswa sebagai agen of change dan moral of force patutnya memberikan kontribusi yang begitu berarti buat bangsa ini seperti sikap soluktif yang sangan diharapkan bukan tindakan yang ANARKIS.

Makassar, 11 Oktober 2010

Penulis



A G U S

Tidak ada komentar: