Oleh : Agus
Malam semakin larut, hembusan angin dari jendela begitu dingin membuat sejenak tubuh ini mengigil. Hampa, senyap dan kesepian perasan inilah menghampiriku malam itu lalu ku memulai menarikan jari tanganku tuk menuangkan perasaan yang aku alami saat ini, entah mengapa diriku gelisah seperti ini.?
Sendiri dalam heningnya malam dan hembusan angin yang begitu dingin seakan memberikannku isyarat tentang kehadiran mahluk lain dalam ruangan ini yaitu jin dan malaikat yang menemani malamku, namun aku tak menghiraukan yang penting meraka tidak mengganggu akupun demikian, tuhan maha bijaksana memberikan setiap insan sebuah perasaan benci, rindu, bahkan perasaan cinta yang tidak dapat dipungkiri eksistensinya dalam kehidupan manusia. Banyak orang berpendapat bahwa canda, tawa, tangis merupakan luapan yang timbul dari perasaan.
Perlahan guyuran hujan mulai redah, suara genteng pun sedikit demi sediki mulai terdengar melemah kali ini tergantikan nyanyian merdu sang katak dan jangkrik yang mulai menghiasi malam detak jam dinding sejak tadi mengintai malam yang begitu sunyi telah menunjukkan pukul 02.30 dini hari namun entah mengapa diriku gelisah seperti ini.?
Rasa ngantuk kini mulai menyerangku membuat tubuhku tak berkutip tuk segera mungkin mengistirahatkannya, Tak terasa malam ini aku lalui dengan sebuah perasaan gelisah tidak menentu, hanya teringat seseorang wanita yang entah dia memikirkan diriku seperti aku memikirkannya malam ini, namun sudalah biarkan semua ini mengalir bagai air sungai dari hulu hingga mencapai hilirnya dengan perasaan yang legah setelah melalui hambatan -hambatan berat.
Sampai jumpa malam semoga keindahan gelapmu takkan sirna oleh cahaya, dan semoga wanita yang membuat diriku gelisah dapat kutemui dalam setiap mimpiku dengan senyumannya yang begitu menawan.
Makasar, 10 Desember2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar